Follow

Analisis Monitoring Partai Politik Periode Januari-Pebruari 2014

Menjelang pelaksanaan pemilu legilatif 2014, Indonesia Media Monitoring Center (IMMC) melakukan riset pemberitaan media terhadap dinamika partai politik. Riset media monitoring ini dilakukan untuk melihat melihat geliat pemberitaan partai politik menjelang pelaksanaan pileg dan pilpres di media massa.

Monitoring partai politik ini dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling terhadap 14 media cetak dan 9 media  online. Pemilihan media didasarkan pada sebaran media,  segmen media, rating media dan kepemilikan media. Adapun media cetak yang di monitoring adalah Kompas, Jawa Pos, Rakyat Merdeka, Koran Sindo, Koran Tempo, Republika, Indopos, Koran Jakarta, Investor Daily, Jurnas, Suara Pembaharuan, Pikiran Rakyat dan Jakarta Post. Sedangkan 9 media online yang dimomitoring adalah Kompas.com, Detik.com, Merdeka.com, Okezone.com, Viva.co.ic, Antaranews.com, Tempo.co, Metrotvenews.com dan Rmol.co.

Sedangkan pengumpulan data dilakukan dalam periode 04 Januari -14 Februari. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah mengumpulkan dan menganalisa (conten analisis) terhadap seluruh artikel tentang partai politik yang ada di media.

Hasil riset IMMC menunjukkan beberapa temuan. Pertama, selama periode 04 Januari -14 Februari, partai yang cukup banyak diberitakan dari semua jenis media (agregatif)  adalah Partai Demokrat dengan total 28%. Pada posisi berikutnya adalah Golkar (14%), PDIP (13%) dan PKS (8%). Menurut peneliti IMMC, Sunardi Panjaitan, besarnya pemberitaan Partai Demokrat di media dipicu oleh beberapa isu seperti isu korupsi Hambalang dan Suap SKK Migas dan pelaksanaan Konvensi Partai Demokrat serta polemik pemecatan I Gede Pasek Suardika sebagai anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Demokrat.

Kedua, isu utama pemberitaan partai politik adalah isu Pencapresan yaitu sebanyak 42 %. Kemudian disusul isu Kegiatan Anggota DPR (15%), Kasus Hukum (12%), Pemilu Legislatif (9%), Kegiatan Partai (9%), Konflik (7%), Dukungan (1%) dan Pilkada (1%). “Besarnya pemberitaan tentang capres menunjukkan bahwa partai politik lebih serius dalam mempersiapkan capres dibandingkan persiapan menghadapi pemilu legislatif,” ujar Sunardi Panjaitan.

Sunardi Panjaitan menyebutkan, hal yang menyebabkan partai politik lebih mengedepankan isu capres dibanding isu lainnya adalah isu capres cenderung menguntungkan partai karena tone pemberitaan yang lebih dominan positif. Hal ini akan sangat mempengaruhi citra partai. Sementara, isu-isu yang lain lebih cenderung memberikan tone negatif seperti kasus hukum dan konflik. “Tidak ada partai yang ingin diberitakan dalam isu hukum apalagi harus berurusan dengan KPK menjelang pemilu 2014 ini. Pemberitaan partai yang terkait dengan KPK lebih cenderung bernada negatif,” ungkap Sunardi.

Besarnya pemberitaan terkait kasus hukum inilah yang membuat Partai Demokrat (30%) dan Partai Golkar (26%) menjadi partai yang paling banyak mendapat tone negatif dalam pemberitaan media. Kasus hukum yang cukup banyak memberikan tone negatif bagi Partai Demokrat adalah Kasus Hambalang dan Kasus Suap SKK Migas. Sedangkan kasus hukum yang paling banyak terkait dengan Partai Golkar adalah Kasus Korupsi Alkes di Provinsi Banten dan Kasus Suap Akil Mochtar. “Pemberitaan Konvensi Partai Demokrat sebenarnya cukup besar sejak dilaksanakan debat antara kandidat di beberapa daerah yang membuat tone positif bagi Partai Demokrat mulai meningkat. Namun, massifnya pemberitaan tentang kasus Hambalang dan Kasus Suap SKK Migas membuat pemberitaan yang bernada negatif bagi Partai Demokrat cukup besar,” terang Sunardi.

Sedangkan partai yang paling banyak mendapatkan tone positif adalah NasDem (22%), Hanura (21%) dan PKS (13%). Besarnya tone positif bagi Nasdem dan Hanura lebih dibanyak dipengaruhi oleh besarnya tone positif yang diberikan oleh media-media milik NasDem dan Hanura. “Tone positif bagi Partai NasDem lebih banyak berasal dari Media Indonesia dan Metrotvnews.com. Sedangkan tone positif bagi Hanura lebih banyak berasal dari Okezone.com dan Koran Sindo. Sementara, khusus untuk tone positif bagi PKS lebih disebabkan oleh Pelaksanaan Pemira PKS dan pengumuman kandidat capres PKS hasil Pemira. Sebaliknya, kasus hukum yang sebelumnya banyak menyebabkan tone negatif bagi PKS, pada periode Januari-Februari pemberitaanya relatif berkurang,” ungkap Sunardi.

Share

Berita

  • Mendagri Beri Sinyal Batalkan Dana Saksi Parpol +

    JAKARTA (KOMPAS.com) - Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengatakan pemerintah tidak akan mengeluarkan peraturan presiden terkait dana saksi bagi partai politik. Read More
  • KPU: Semua Parpol Lakukan Pelanggaran Kampanye +

    BANDUNG (REPUBLIKA.CO.ID), -- KPU Jabar mencatat, hampir semua parpol yang menjadi peserta Pemilu 2014 melakukan pelanggaran kampanye. "Saya cek 12 partai Read More
  • DPT bisa jadi bumerang bagi KPU +

    Semarang (ANTARA News) - Pengamat politik Universitas Diponegoro Semarang Teguh Yuwono mengingatkan bahwa daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2014 bisa menjadi Read More
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Kutipan Media

  • Ironi Hari Tanpa Tembakau di Indonesia (Bagian 1) +

    PP 109/2012 Dan Pertaruhan Hidup Puluhan Juta Orang; Pemerintah menerbitkan peraturan pemerintah (PP) No. 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Read More
  • STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA +

    STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA (Berpikir Global, Beraksi Lokal) Oleh: Drs. Jamalludin Sitepu, M.A. Banyak pihak yang sudah Read More
  • BUMN INFRASTRUKTUR +

    Salah satu ciri yang menegaskan kemanjuan suatu negara adalah baiknya infrastruktur yang ada di negara tersebut. Karena jika semua infrastruktur Read More
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Follow Us

Find Us